Inilah Perbedaan Covid-19 dengan Flu Biasa, Jangan Mau ‘Dicovidkan’!

NEWSREPORT  Flu biasa dan infeksi akibat Covid-19 memang memiliki gejala yang mirip. Namun, ada sejumlah hal yang membedakan, sehingga kamu tak perlu khawatir ‘Dicovidkan” padahal hanya flu atau pilek.

Jangan percaya dengan pihak yang mengatakan kamu positif Covid-19, padahal punya motif tertentu. Apalagi jika vonis tersebut diucapkan tanpa prosedur tes antigen atau PCR.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), Vito A. Damay mengatakan, antara COVID-19 dan flu umumnya sama-sama memiliki gejala pilek, hidung tersumbat.

Tapi, jika terinfeksi Covid-19 maka kamu akan mengalami demam, batuk, tenggorokan tak nyaman, kadang juga mual, diare, timbul bercak-bercak kemerahan di kulit mirip seperti alergi, badan terasa lemas, mudah lelah sehingga membuat penderitanya ingin terus beristirahat.

87% orang dengan gejala Covid-19 juga kehilangan indra perasa dan indra penciuman padahal hidungnya tak tersumbat. Gejala tidak bisa mencium aroma baik itu makanan, tubuhnya, maupun yang lainnya ini disebut anosmia.

“Walau sama-sama pilek, hidung tersumbat, meler, tetapi COVID-19 biasanya punya gejala anosmia atau tidak bisa mencium aroma atau kehilangan (kemampuan) indera penciumannya. 87 persen orang dengan COVID-19 punya keluhan anosmia,” kata Vito, dikutip dari Antara, Jumat (16/7/2021).

Penyebab anosmia ini bukan hidung tersumbat atau pilek, melainkan karena neuron sensorik penciuman tidak bisa mengekspresikan gen yang mengkode protein reseptor ACE2 (yang digunakan virus SARS-CoV-2 untuk memasuki sel manusia), seperti dilaporkan studi dalam jurnal Science Advances pada 24 Juli 2020.

Profesor neurobiologi di Blavatnik Institute, Harvard Medical School (HMS), Sandeep Robert Datta, menemukan, virus corona mengubah indera penciuman pada pasien, bukan dengan menginfeksi neuron secara langsung tetapi memengaruhi fungsi sel pendukung.

Sementara itu, orang dengan flu biasa tidak mengalami anosmia. Meskipun hidung tersumbat, tapi pasien masih bisa menghirup aroma makanan.

Perbedaan lain antara flu dan COVID-19, yakni infeksi virus SARS-CoV-2 menyebabkan paru-paru basah sehingga akan tampak bercak-bercak atau bulat-bulat pada hasil rontgen thorax pasien COVID-19.

Orang dengan COVID-19 juga mengalami penurunan saturasi oksigen, yang tidak diderita oleh pasien dengan flu biasa.
Walaupun sama-sama punya gejala hidung tersumbat, saturasi oksigen pada oximeter orang yang terkena flu tidak akan turun dari angka normal (yakni 95-100 persen).

Perbedaan lain antara Covid-19 dengan flu biasa adalah, infeksi virus corona menyebabkan D-Dimer naik atau gangguan pembekuan darah yang tidak dialami orang dengan flu biasa.

Terakhir adalah dengan menjalani tes PCR untuk memastikan kamu terpapar Covid-19 atau tidak, terutama bila mempunyai riwayat kontak dengan pasien COVID-19.

“Kalau flu harus diswab juga? ya karena gejalanya mirip sebaiknya Anda lakukan daripada menyesal apalagi kalau punya riwayat kontak dengan orang yang positif,” ujar Vito.

Istilah “diCOVIDkan” juga bisa merujuk pada kondisi yang membuatmu terpapar COVID-19 karena abai pada protokol kesehatan, tidak selalu karena ulah pihak lain demi motif tertentu.

“Tidak pakai masker itu namanya Anda di-COVID-kan. Kalau Anda menularkan pada orang lain itu berarti Anda meng-COVID-kan orang lain. Jangan mau diCOVIDkan, jangan mau ditularkan atau menularkan pada orang lain, pakai maskernya,” tegasnya.

Leave a Comment